JADI LENGKAP

December 23rd, 2009

Bacaan : Lukas 24:13-35

Setahun: 1 Yohanes 3-5

Nats: Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi (Lukas 24:27)

Kado ulang tahun itu datang terlambat dua bulan, tetapi maknanya tidak berkurang. Seorang kawan yang bekerja di AS mengirimi saya CD Messiah, oratorium dalam tiga bagian karya George Frideric Handel. Sebuah rekaman lengkap karya musik sepanjang hampir dua setengah jam yang menuturkan nubuatan tentang kedatangan Kristus serta kehidupan, kematian, kebangkitan, dan kemuliaan-Nya. Sebelumnya saya hanya mendengar cuplikan-cuplikannya, terutama chorus Hallelujah yang termashyur itu. Kini saya dapat mengapresiasi keseluruhan karya itu secara utuh. Sungguh indah!

Para murid sudah bersama-sama dengan Yesus selama tiga tahun. Namun, mereka belum mengenal Guru mereka secara utuh, bahkan tidak memahami misi-Nya datang ke dunia ini. Begitu juga dengan dua orang murid yang berjalan ke Emaus setelah penyaliban Yesus ini. Yesus yang telah bangkit secara khusus mendatangi mereka, menjelaskan Mesias seperti yang terurai dalam Perjanjian Lama (PL). Penjelasan Yesus itu mengobarkan hati mereka, melengkapkan pemahaman mereka, dan meneguhkan iman mereka.

Dengan demikian, sangat vital bagi kita untuk mengenal Yesus Kristus secara lengkap. Tanpa PL, pemahaman kita akan Yesus seperti cuplikan oratorium yang tidak utuh. Dari catatan PL, kita menemukan kesaksian tentang bagaimana Allah mempersiapkan kedatangan-Nya. Dari situ kita dapat memahami akar dan latar belakang sosok Mesias: bahwa Dia bukan Juru Selamat yang muncul tiba-tiba dari ruang hampa.

Jadi, kita perlu meluangkan waktu untuk mempelajari PL jika ingin semakin bertumbuh di dalam pengenalan akan Kristus –ARS

TANPA MEMAHAMI PERJANJIAN LAMA, KITA TIDAK AKAN MEMAHAMI MISI KEDATANGAN YESUS KRISTUS DALAM PERJANJIAN BARU

_____________________________________

Lukas 24:13-35

13. Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh  mil jauhnya dari Yerusalem,

14  dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.

15  Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan  bersama-sama dengan mereka.

16  Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.

17  Yesus berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Maka berhentilah mereka dengan muka  muram.

18  Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: “Adakah  Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa  yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?”

19  Kata-Nya kepada mereka: “Apakah itu?” Jawab mereka: “Apa  yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi,  yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.

20  Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah  menyalibkan-Nya.

21  Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat  tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.

22  Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur,

23  dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan  berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup.

24  Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”

25  Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!

26  Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?”

27  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan  segala kitab nabi-nabi.

28  Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.

29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.

30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.

31  Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.

32  Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan  dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”

33  Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang  berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.

34  Kata mereka itu: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”

35  Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

RUMAH YANG BERSIH

December 22nd, 2009

Bacaan : 2 Raja-raja 4:1-7

Setahun: 1 Yohanes 1-2

Nats: Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu (Amsal 22:6)

Suatu kali saya menemukan kutipan indah berikut, “Andai rumah saya sangat bersih dan segala sesuatu tertata rapi, tetapi tak ada kasih di situ, maka saya adalah seorang pembantu, bukan ibu. Andai saya punya waktu untuk mengelap, mengepel, mendekorasi rumah dan seisinya, tetapi tak punya waktu untuk menunjukkan kasih, maka anak-anak hanya belajar tentang kebersihan, bukan kesalehan. Dulu saya pikir keberhasilan seorang ibu dilihat dari bagaimana ia menata rumah. Namun, kini saya tahu bahwa ukurannya adalah pada bagaimana anak-anak belajar tentang kasih.”

Semasa Elisa melayani, seorang janda meminta pertolongan kepadanya. Ia janda dari seorang nabi Allah, yang telah dibunuh kejam oleh Izebel. Ketika itu sangat sulit bagi seorang janda untuk mencari nafkah. Dan kini ia terdesak; terjerat utang yang besar (ayat 1). Namun, ia tak berbalik setia. Apalagi ia memiliki anak-anak. Ia ingin anak-anaknya
melihat dan mengalami bahwa Allah mereka patut diandalkan. Maka, ia mencari Elisa sang hamba Allah. Ia dan anak-anaknya pun mendapatkan mukjizat. Dan itu menyelamatkan serta mengajarkan kebenaran penting pada anak-anaknya (ayat 5-7).

Bertumbuhnya seorang pribadi selalu ditopang oleh kehadiran dan dukungan seorang ibu, atau seorang lain yang berperan sebagai ibu baginya. Bagaimana berkata-kata, mengampuni sesama, berbagi serta menunjukkan kasih, juga memercayai Tuhan, kebanyakan dipelajari orang dari ibu. Maka, kiranya perhatian ibu bukan mengatur urusan rumah jasmani saja. Yang jauh lebih penting adalah menata fondasi hidup seorang anak, yang kelak bisa mengubah dunia dengan cara yang menyenangkan Allah –AW

RUMAH BERSIH TAK MENJAMIN HATI SEKETIKA BERSIH NAMUN IBU PENUH KASIH TERUS MEMBENTUK HIDUP PENUH KASIH

______________________________________

2 Raja-raja 4:1-7

1. Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati dan  engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.”

2  Jawab Elisa kepadanya: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun  di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.”

3  Lalu berkatalah Elisa: “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit.

4  Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!”

5  Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan  bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang.

6  Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,” tetapi jawabnya kepada ibunya: “Tidak ada lagi bejana.” Lalu  berhentilah minyak itu mengalir.

7  Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi  Allah, dan orang ini berkata: “Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu.”

SATU-SATUNYA JALAN

December 21st, 2009

Bacaan : Yohanes 14:1-7

Setahun: 2 Timotius 1-4

Nats: Kata Yesus kepadanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6)

Seorang guru Sekolah Minggu memegang dua balon di tangannya, dan meminta anak-anak menebak balon mana yang akan terbang ke atas. Ia lalu melepaskan balon itu. Yang satu langsung membubung ke langit, yang lain melayang sebentar lalu turun ke lantai.

“Dari luar, kedua balon itu tampak sama. Yang membedakan adalah isinya. Yang satu berisi udara biasa, yang lain berisi gas helium,” jelasnya. “Begitu juga dengan jalan ke surga. Tuhan tidak memandang penampilan luar kita. Tidak ada seorang pun yang bisa pergi ke surga karena kemampuan dan kebaikannya sendiri. Yang menentukan adalah apa yang mengisi kita. Apakah kita diisi oleh perkara-perkara dari dunia ini, atau kita diisi oleh Penyelamat dari surga yang hidup dan menghidupkan: Tuhan Yesus Kristus?”

Firman Tuhan telah memberikan jawaban yang gamblang atas pertanyaan yang sangat penting dan mendasar bagi manusia: Bagaimana kita dapat mengenal jalan menuju Allah? Tuhan Yesus Kristus menjawab secara tegas bahwa
Dialah satu-satunya Jalan untuk datang kepada Bapa. Dialah satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia karena hanya Dia yang sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Dialah Penyelamat yang rohani dan yang kekal, yang sanggup membawa kita kembali ke rumah Bapa.

Dengan apakah kita mengisi kehidupan kita? Moralitas, etika, nilai-nilai dari dunia ini, yang bagaimanapun luhurnya tidak akan dapat mengantarkan kita kembali kepada Allah? Atau, dengan anugerah Allah di dalam Kristus Yesus? Kita dapat memutuskan pada hari ini jalan mana yang akan kita tempuh –ARS

JALAN MENUJU KE SURGA TIDAK DAPAT DIBUKA DARI DUNIA HARUS ADA UTUSAN DARI SURGA YANG MERINTIS JALAN BAGI KITA

________________________________________

Yohanes 14:1-7

1. “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah,  percayalah juga kepada-Ku.

2  Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian,  tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

3  Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan  tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

4. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.”

5  Kata Tomas kepada-Nya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”

6  Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui  Aku.

7  Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.”

BAHAYA KATA-KATA MANIS

December 17th, 2009

Bacaan : Mazmur 12:1-9

Setahun: 1 Petrus 3-5

Nats: Biarlah Tuhan mengerat segala bibir yang manis dan setiap lidah yang bercakap besar (Mazmur 12:4)

Kita merasa senang, hati kita menjadi hangat, apabila mendengar kata-kata yang manis. Dampak kata-kata manis memang baik bagi jiwa. Sayangnya, kata-kata manis tidak selalu keluar dari hati yang manis pula. Bahkan, bisa juga hal itu diucapkan dengan maksud licik, didorong oleh akal bulus, atau sarat dengan keculasan. Inilah ironinya. Kata-kata
manis yang enak didengar telinga tidak selalu berasal dari hati yang manis!

Orang-orang yang berada di seputar lingkungan pemazmur adalah mereka yang “berkata dusta … dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang” (ayat 3). Dengan itu mereka menindas orang yang lemah dan miskin (ayat 6). Rupanya, kata-kata manis telah menjadi sarana penindasan pada zaman itu! Pemazmur yang tak dapat menerima hal ini, memohon agar Tuhan campur tangan. Serunya, “Tolonglah kiranya …” (ayat 2). Atas pengaduan ini, Tuhan berkenan mendengar dan bertindak: “Sekarang juga Aku bangkit … Aku memberi keselamatan kepada orang yang menghauskannya” (ayat 6). Inilah janji Tuhan yang teruji (ayat 7). Yakni bahwa Tuhan membela orang yang ditindas oleh mereka yang menggunakan kata-kata manis sebagai alat untuk menguasai orang lain.

Bagaimana kita berkata-kata terhadap orang lain? Terhadap keluarga, rekan sekerja, tetangga kiri-kanan, terhadap orang yang lebih lemah? Semoga setiap kata-kata yang kita ucapkan merupakan kata-kata yang tulus dan jauh dari maksud menindas orang. Sebab apabila tidak demikian, Tuhan akan mengganjar kita. Bersikap dan berkata-katalah manis; bukan hanya di mulut, tetapi juga dari dalam hati! –DKL

KARAT DI HATI TERJADI APABILA KATA-KATA MANIS DIPAKAI SEBAGAI SENJATA MANIPULASI

_____________________________________

Mazmur 12:1-9

1. Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Yang kedelapan. Mazmur  Daud. (12-2) Tolonglah kiranya, TUHAN, sebab orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak  manusia.

2  (12-3) Mereka berkata dusta, yang seorang kepada yang lain, mereka berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang.

3  (12-4) Biarlah TUHAN mengerat segala bibir yang manis dan setiap lidah yang bercakap besar,

4  (12-5) dari mereka yang berkata: “Dengan lidah kami, kami menang! Bibir kami menyokong kami! Siapakah tuan atas kami?”

5  (12-6) Oleh karena penindasan terhadap orang-orang yang  lemah, oleh karena keluhan orang-orang miskin, sekarang juga Aku bangkit, firman TUHAN; Aku memberi keselamatan kepada orang yang  menghauskannya.

6  (12-7) Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak  yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.

7  (12-8) Engkau, TUHAN, yang akan menepatinya, Engkau akan menjaga kami senantiasa terhadap angkatan ini.

8  (12-9) Orang-orang fasik berjalan ke mana-mana, sementara  kebusukan muncul di antara anak-anak manusia.

PERSIAPAN KEMATIAN

December 17th, 2009

Bacaan : Roma 14:7-9

Setahun: 2 Petrus 1-3

Nats: Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri (Roma 14:7)

Sebuah gereja pernah menyebarkan formulir persiapan kematian. Tiap anggota diminta menjawab pertanyaan seperti: Mau dikubur di mana? Lagu-lagu apa yang ingin dinyanyikan saat kebaktian tutup peti? Adakah ayat atau pesan terakhir? Kalimat apa yang akan ditulis di batu nisan? Formulir itu akan disimpan oleh gereja dan dieksekusi saat yang
mengisinya meninggal. Beberapa orang berkata: “Tidak pantas bicara soal kematian sebelum waktunya. Pamali!” Namun, menurut sang pendeta, kematian harus dipersiapkan supaya momen itu bisa dipakai “calon almarhum” untuk memuliakan Tuhan.

Paulus menegaskan bahwa kita ini milik Tuhan. Diri kita bukanlah milik pribadi. Apa pun yang kita perbuat atau rencanakan selama hidup perlu memuliakan Tuhan; mengakui ketuhanan-Nya; melayani kepentingan-Nya, bukan kepentingan diri sendiri. Sampai saat kematian pun, menurut Paulus, “kita mati untuk Tuhan” (ayat 8). Kematian kita harus memuliakan nama-Nya! Jangan sampai saat dipanggil pulang, kita meninggalkan jejak yang mempermalukan nama-Nya. Atau, mati karena berbuat hal yang mencemarkan Dia. Kematian kita harus membawa berkat bagi yang kita tinggalkan.

Persiapkan kematian sejak sekarang. Caranya? Pastikan pekerjaan Anda hari ini membuat Tuhan tersenyum. Saksikan kebaikan Tuhan pada orang sekitar, sehingga kapan pun maut menjemput, kita siap. Persiapkan juga hari kematian Anda, supaya jika saatnya tiba, anak-anak Anda tidak sampai berebut warisan. Biarlah hari itu menjadi hari terindah bagi Anda, karena bertemu Tuhan muka dengan muka. Juga hari penuh berkat bagi mereka yang telah berbagi hidup dengan Anda –JTI

JADIKAN TUHAN TERSENYUM MELIHAT CARA HIDUP ANDA DAN CARA MATI ANDA

_______________________________________

Roma 14:7-9

7  Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk  dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri.

8  Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita  adalah milik Tuhan. 

9  Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.

PENAMPILAN FISIK

December 15th, 2009

Bacaan : 1 Samuel 16:1-13

Setahun: Filemon, 1 Petrus 1-2

Nats: Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati (1 Samuel 16:7)

Dr. Joyce Brothers, seorang psikolog terkenal di Amerika, diam-diam pernah melakukan observasi di sebuah Taman Kanak-kanak. Hasil observasinya menunjukkan bahwa para guru cenderung bersikap lebih baik dan lebih sabar kepada anak-anak yang secara fisik lucu, cakep, dan menarik. Begitu juga para murid, mereka lebih cenderung mendekati
temannya yang secara lahiriah menarik. Sedangkan anak-anak yang tidak menarik, cenderung dijauhi. Bahkan, kerap dianggap sebagai pembawa masalah.

Begitulah umumnya orang, cenderung lebih terfokus pada tampilan lahiriah, mengukur sesama hanya dari sisi jasmaniah. Seperti juga Samuel ketika datang ke rumah Isai atas perintah Tuhan untuk mengurapi calon raja Israel pengganti Saul (ayat 1). Waktu melihat Eliab, salah seorang anak Isai, Samuel langsung terpikat dengan paras dan perawakannya yang tinggi (ayat 6,7). Akan tetapi, Tuhan tidak demikian. Penampilan jasmaniah, bukan itu yang Tuhan lihat. Firman-Nya, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata,
tetapi Tuhan melihat hati” (ayat 7).

Maka, kalau kita tidak memiliki penampilan lahiriah secakep atau semenarik orang lain, jangan kecil hati atau rendah diri. Sebab, Tuhan tidak melihat hal-hal lahiriah dari kita. Tuhan melihat hati. Sebaliknya, kalau kita dikaruniai penampilan fisik yang elok dan menawan, jangan sombong. Sebab, bukan itu ukuran kualitas atau nilai kita di hadapan Tuhan. Tuhan tidak akan memperlakukan kita secara istimewa hanya karena kita memiliki wajah rupawan dan tubuh atletis –AYA

KEINDAHAN BATINIAH JAUH LEBIH BERNILAI DARIPADA KEINDAHAN JASMANIAH

________________________________________

1 Samuel 16:1-13

1. Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah.  Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di  antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.”

2  Tetapi Samuel berkata: “Bagaimana mungkin aku pergi? Jika  Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku.” Firman TUHAN: “Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan  korban kepada TUHAN.

3  Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah  bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu.”

4  Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya  dengan gemetar dan berkata: “Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?”

5  Jawabnya: “Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini.” Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang
laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.

6. Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang  diurapi-Nya.”

7  Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya.  Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

8  Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: “Orang inipun tidak dipilih TUHAN.”

9  Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata:  “Orang inipun tidak dipilih TUHAN.”

10  Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: “Semuanya ini tidak dipilih TUHAN.”

11  Lalu Samuel berkata kepada Isai: “Inikah anakmu semuanya?” Jawabnya: “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai: “Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia  datang ke mari.”

12  Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan,  matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman:  “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.”

13  Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu  berangkatlah Samuel menuju Rama.

IKUT MENGEMBARA

December 15th, 2009

Bacaan : Ulangan 1: 34-40

Setahun: Ibrani 11-13

Nats: kecuali Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, dan Yosua bin Nun, sebab keduanya mengikut TUHAN dengan sepenuh hatinya (Bilangan 32:12)

Dua belas orang diutus untuk mengintai Kanaan. Sepuluh orang membawa kabar buruk yang menciutkan hati bangsa Israel. Dua orang, Yosua dan Kaleb, bersikap lain. Mereka percaya pada Tuhan yang berjanji akan menyerahkan tanah itu kepada Israel. Mereka yakin, Tuhan pasti memampukan bangsa itu menghadapi kesulitan yang menghadang. Namun, bangsa Israel tetap tidak mau percaya. Tuhan murka, sehingga bangsa itu harus mengembara selama empat puluh tahun di padang gurun.

Menariknya, Yosua dan Kaleb juga ikut menanggung konsekuensi tersebut. Mereka tidak diistimewakan dengan boleh memasuki Kanaan lebih awal. Mereka harus ikut mengembara bersama bangsa yang tegar tengkuk itu. Artinya, hari demi hari mereka juga harus mempertahankan iman di tengah orang-orang sebangsa yang tidak percaya. Selama empat puluh tahun! Perjuangan yang berat, tetapi mereka berhasil melewatinya. Mereka akhirnya memasuki Kanaan bersama angkatan baru bangsa Israel. Hal ini menunjukkan bahwa mereka berpegang pada janji Tuhan dengan  sepenuh hati. Pengembaraan itu bukan penghukuman bagi mereka, melainkan masa pemurnian iman.

Iman kepada Tuhan memang tidak selalu mendatangkan hasil secara langsung. Yang lebih sering terjadi, iman kita malah akan diuji lebih jauh melalui keadaan dan lingkungan yang tidak mendukung. Pengalaman Yosua dan Kaleb menunjukkan bahwa iman justru diperkuat dan dimurnikan oleh tantangan tersebut. Teladan mereka menggugah kita
untuk tidak menjadi ciut hati dalam menghadapi ujian iman hari demi hari. (AS)

IMAN YANG TIDAK TERUJI BUKANLAH IMAN YANG BERHARGA

______________________________________

Ulangan 1: 34-40

1:34 “Ketika TUHAN mendengar gerutumu itu, Ia menjadi murka dan bersumpah:

1:35 Tidak seorangpun dari orang-orang ini, angkatan yang jahat ini, akan melihat negeri yang baik, yang dengan sumpah Kujanjikan untuk memberikannya kepada nenek moyangmu,

1:36 kecuali Kaleb bin Yefune. Dialah yang akan melihat negeri itu dan kepadanya dan kepada anak-anaknya akan Kuberikan negeri yang diinjaknya itu, karena dengan sepenuh hati ia mengikuti TUHAN.

1:37 Juga kepadaku TUHAN murka oleh karena kamu, dan Ia berfirman: Juga engkau tidak akan masuk ke sana.

1:38 Yosua bin Nun, pelayanmu, dialah yang akan masuk ke sana. Berilah kepadanya semangat, sebab dialah yang akan memimpin orang Israel sampai mereka memiliki negeri itu.

1:39 Dan anak-anakmu yang kecil, yang kamu katakan akan menjadi rampasan, dan anak-anakmu yang sekarang ini yang belum mengetahui tentang yang baik dan yang jahat, merekalah yang akan masuk ke sana dan kepada merekalah Aku akan memberikannya, dan merekalah yang akan memilikinya.

1:40 Tetapi kamu ini, baliklah, berangkatlah ke padang gurun, ke arah Laut Teberau.”

JIKA KITA MENJADI MARAH

December 10th, 2009

Bacaan : Efesus 4:17-32

Setahun: Kolose 1-4

Nats: Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu (Efesus 4:26)

Dengan wajah ketakutan dan suara pelan terbata-bata, anak saya berkata, “Mama kalau marah, mengerikan. Aku takut!” Saya tertegun mendengarnya. Kemarahan ternyata membuat saya tampak mengerikan! Marah yang tidak
terkendali, bisa merugikan. Apabila seseorang begitu dikuasai kemarahan, ia bisa dibuat buta; seperti kehilangan akal sehat, bersikap ngawur, tak peduli dan tak kenal siapa yang menjadi sasaran kemarahannya. Marah semacam itu bisa menghancurkan semangat, hubungan, juga kedamaian. Maka, firman Tuhan hari ini mengingatkan agar jika kita sedang marah, kita jangan bersikap seperti manusia lama yang belum mengenal Kristus.  Manusia lama yang ketika marah cenderung bersikap bodoh, berhati degil, dan berperasaan tumpul (ayat 17-19).

Kemarahan yang tidak terkendali bisa membuat kita mudah berbuat dosa karena itu bisa menyakiti dan melukai diri kita sendiri dan orang lain. Namun, pengenalan akan Kristus dan pembaruan roh serta pikiran akan memampukan kita menahan diri untuk tidak berbuat dosa (ayat 21-23). Menyimpan kemarahan menumbuhkan akar pahit di hati dan pikiran. Lama-lama ia bisa merusak jiwa dan raga. Kita diingatkan supaya membuang kemarahan sebelum matahari terbenam (ayat 26). Kemarahan bisa sangat mungkin menjadi tempat iblis memorak-porandakan kehidupan. Maka, Tuhan meminta kita untuk tidak memberi kesempatan kepada iblis (ayat 27).

Di dalam Kristus, kita mengenakan manusia baru dalam kebenaran dan kekudusan (ayat 24). Jadi, mari terus berubah oleh pembaruan budi di dalam Dia. –CTW

SEMOGA RUMAH ANDA SEPERTI NAZARET, DI MANA YESUS MENETAP DAN MEMBAWA DAMAI DI RUMAH ANDA – Ibu Teresa

______________________________________

Efesus 4:17-32

17 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia

18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.

19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.

20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.

21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,

22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,

23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,

24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.

28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.

31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.

32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni,  sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

JERAT MILIK

December 9th, 2009

Bacaan : Lukas 14:25-35

Setahun: Filipi 1-4

Nats: Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku (Lukas 14:33)

Ketika Tuhan Yesus mengatakan, bahwa setiap orang yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, ia tidak dapat menjadi murid-Nya (ayat 33), itu bukan berarti kita tidak boleh memiliki apa pun. Sebab selama berada di dunia, kita akan selalu perlu”memiliki sesuatu”. Ucapan Tuhan Yesus tersebut bisa diartikan begini: jangan kita begitu terikat dan terekat dengan segala sesuatu yang kita miliki, sehingga bukan kita yang memiliki, tetapi justru kitalah yang dimiliki oleh segala sesuatu itu.

Sebab, apabila seseorang itu sudah sedemikian kuatnya terikat dan terekat pada miliknya, maka ia akan  menomorduakan Tuhan. Ia juga bisa melakukan apa saja; menghalalkan segala cara, mengabaikan norma sosial,
mengesampingkan hukum Tuhan, untuk merebut atau mempertahankannya. Milik di sini bisa berupa harta benda, bisa juga berupa jabatan, popularitas, atau bahkan orang; entah pacar, teman dekat, atau siapa saja. Intinya adalah: jangan menempatkan apa pun dan siapa pun di dunia ini melampaui Tuhan. Dalam kehidupan seorang murid Kristus, Tuhan harus senantiasa menjadi yang pertama dan terutama.

Jadi, tidak salah apabila kita memiliki sesuatu. Yang salah, kalau karena sesuatu yang kita miliki itu, kita kemudian mengabaikan Tuhan; tidak lagi taat dan menaruh hormat kepada Tuhan. Apabila demikian adanya, berarti kita telah memberhalakannya. Berhala (dalam bahasa Inggris: idol) bukan hanya berupa patung-patung atau benda-benda kuno
yang dianggap punya kekuatan magis, melainkan juga segala sesuatu yang menggeser Tuhan dari pusat hidup kita. (AY)

TUHAN TIDAK INGIN KITA MENDUAKAN-NYA

______________________________________

Lukas 14: 25-35

14:25      Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:

14:26      “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

14:27      Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

14:28      Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?

14:29      Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,

14:30      sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

14:31      Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan
dua puluh ribu orang?

14:32      Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.

14:33      Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

14:34      Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?

14:35      Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”.

Catatlah!

December 8th, 2009

Bacaan hari ini: Yosua 18:1-10

Ayat mas hari ini: Yosua 18:8

Bacaan Alkitab Setahun: Efesus 4-6

Biasakanlah menulis!” merupakan sebuah nasihat yang kerap kita dengar. Kegiatan mencatat atau menulis,  kelihatannya sepele. Itu pelajaran yang sudah kita dapat sejak Sekolah Dasar. Namun, jangan diremehkan. Tulisan
menyumbangkan perubahan sangat besar dalam diri dan kehidupan manusia-itu memberi perbedaan amat besar. Bayangkan jika Anda buta huruf pada zaman secanggih ini.

Apa istimewanya kegiatan menulis? Yosua tahu persis bahwa itu menolong orang untuk berubah. Dibanding di masa kepemimpinan Musa, nyatanya kehidupan bangsa Israel di masa kepemimpinan Yosua sungguh berbeda. Tadinya mengembara di gurun, sekarang menduduki tanah Kanaan. Akan tetapi, rupanya bangsa itu enggan mengubah cara hidupnya sesuai dengan kenyataan. “Berapa lama lagi kamu bermalas-malas …?” (ayat 3). Mereka malas berubah. Demi mendorong mereka berubah, Yosua menggunakan kiat “mencatat”. Mencermati, mengukur, menulis daftar, dan melaporkan. Pokoknya catat, catat, dan catat.

Dunia baca-tulis mengubah wajah dunia. Allah memberikan hukum tertulis di Sinai. Para Rasul dalam Perjanjian Baru membina jemaat melalui saurat-surat tertulis, yang kemudian dibacakan dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Reformasi gereja diiringi oleh penerjemahan Alkitab. Buku mendidik dan mengubah cara pandang orang. Banyak tokoh besar punya kebiasaan menulis buku harian. Tulisan menanamkan pengaruhnya ke mana-mana. Apalagi di era informasi ini. Minat dan kebiasaan baca-tulis sangat baik ditumbuhkembangkan. Termasuk bergaul dengan firman Tuhan lewat waktu teduh seperti saat ini.

KERAP MEMBACA-MENULIS PASTI MENGUBAH SESUATU DI DIRI KITA. TINGGAL APA YANG KITA BACA DAN SEBERAPA SERING?

________________________________________

Yosua 18:1-10

18:1 Maka berkumpullah segenap umat Israel di Silo, lalu mereka menempatkan Kemah Pertemuan di sana, karena negeri itu telah takluk kepada mereka.

18:2 Pada waktu itu masih tinggal tujuh suku di antara orang Israel, yang belum mendapat bagian milik pusaka.

18:3 Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: “Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu?

18:4 Ajukanlah tiga orang dari tiap-tiap suku; maka aku akan menyuruh mereka, supaya mereka bersiap untuk menjelajahi negeri itu, mencatat keadaannya, sekadar milik pusaka masing-masing, kemudian kembali kepadaku.

18:5 Sesudah itu mereka akan membaginya di antara mereka menjadi tujuh bagian. Suku Yehuda akan tetap tinggal dalam daerahnya di sebelah selatan dan keturunan Yusuf akan tetap tinggal dalam daerahnya di sebelah utara.

18:6 Kamu catat keadaan negeri itu dalam tujuh bagian dan kamu bawa ke mari kepadaku; lalu aku akan membuang undi di sini bagi kamu di hadapan TUHAN, Allah kita.

18:7 Sebab orang Lewi tidak mendapat bagian di tengah-tengah kamu, karena jabatan sebagai imam TUHAN ialah milik pusaka mereka, sedang suku Gad, suku Ruben dan suku Manasye yang setengah itu telah menerima milik pusaka di sebelah timur sungai Yordan, yang diberikan kepada mereka oleh Musa, hamba TUHAN.”

18:8 Kemudian bersiaplah orang-orang itu, lalu pergi, sedang Yosua memerintahkan kepada mereka, pada waktu mereka berangkat, supaya mereka mencatat keadaan negeri itu, katanya: “Pergilah, jelajahilah negeri itu, catatkanlah keadaannya, kemudian kembalilah kepadaku; maka di sini, di Silo, aku akan membuang undi bagi kamu di hadapan TUHAN.”

18:9 Orang-orang itu pergi dan berjalan melalui negeri itu; mereka mencatat keadaannya dalam suatu daftar, kota demi kota, dalam tujuh bagian, lalu kembali kepada Yosua ke tempat perkemahan di Silo.

18:10 Lalu Yosua membuang undi bagi mereka di Silo, di hadapan TUHAN, dan di sanalah Yosua membagikan negeri itu kepada orang Israel, sesuai dengan pembagian mereka.